Cerpen Laskar Pemikat

Cerpen berdasarkan kisah nyata dengan sentuhan kegaringan

Friendsterku

Senin, 13 April 2009

Pengadilan Alam


PENGADILAN ALAM

(Wildan duasisi)

Malam ini aku lebih memilih duduk diluar kamar, menikmati sinar bulan dan melihat kemilau bintang-bintang yang berkedip manja. Aku semakin sadar bahwa bumi – bukan, maksudku tatasurya tempatku menapakan raga ini adalah bagian kecil dari luasnya jagat raya yang tak berbatas. Begitu kecilkah bumiku? Bila demikian, akan sangat mudah bumi ini hancur saat bertabrakan dengan benda langit lain yang lebih besar.

Ibarat benda langit, aku adalah Pluto – terkucilkan dari laskar Bimasakti. Bila kau berpikir tentang orang yang tak bisa bersosialisasi, orang yang pendiam, atau bila kau kenal dengan seseorang yang gemetar bila harus berbicara didepan umum, seperti itulah aku. Aku lebih senang menulis dari pada berorasi atau sekedar menjawab tegur sapa yang merupakan fungsi fatik dalam berbahasa. Satu-satunya temanku adalah hachi, kucing peliharaanku. Nama ’hachi’ kuambil dari nama tokoh kartun lebah yang hidup sebatang kara dan berkeliling dunia untuk mencari ibunya. Itulah refleksi kehidupanku. Tapi, untungnya aku masih punya orang tua. Bila benda mati bisa dimasukan dalam kategori sahabat, komputer pentium tiga adalah teman keduaku. Dialah media pencurahan kemelut yang mengepul dalam dada.

Kuusap dagu hachi yang setia menemaniku melihat keindahan bulan yang kokoh tergantung pada atap bumi. Rahangnya melurus, menikmati belaian lembut penuh kasih sayang, lantas mengesekan bulu kepalanya pada jemariku. Andai saja ia bisa berkata-kata, apa yang akan ia katakan untuk menjawab masalah kesendirianku ini? Matanya melirik tajam kearahku, namun tak sepatah kata pun kudengar darinya. Andai saja kau bisa menjelma menjadi manusia.

Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, menggoyangkan pepohonan, dan menerbangkan debu di sekelilingku. Aku hanya mampu terperanga ketika melihat ke arah sebuah pohon angsana yang mulai berbunga. Bunga pohon ini berwarna kuning dan baunya seperti jeruk. Ada yang ganjil, seluruh daunnya terlepas dari ranting dan cabangnya. Daun-daun itu kini terbang mendekat padaku. Aku dapat melihat mereka semakin jelas. Mereka hidup. Bila kuperhatikan, mereka terlihat seperti kupu-kupu dengan sayap berbentuk daun yang terbelah mejadi dua Separuh menjadi sayap bagian kiri, sisanya melekat pada punggung sebelah kanan. Sepasang antena menancap pada kepala bundar mereka. Mata mereka merah menyala, dan semuanya menatap kearahku.

Rasa takut mulai merambat ke seluruh organ tubuh. Aku segera berbalik badan dan bersiap menjauh untuk mengantisipasi masalah yang akan kuhadapi. Aku kini tak lagi bisa melangkah karena kakiku tak lagi menapak di bumi. Peri-peri daun itu mengangkat tubuhku. Sebagian mengangkat lenganku, ada pula yang memegangi kakiku dan sebagian besar menarik baju dan celanaku hingga posisiku melayang tertelungkup. Tanganku menepak makhluk aneh yang menarik bagian rambutku, tapi meleset. Mereka malah berpindah memegangi bahuku. Entah hendak kemana aku akan dibawa. Sia-sia aku berteriak, karena suaraku hilang entah mengapa. Pita suaraku tiba-tiba kaku, sehingga hanya angin yang keluar dari mulutku. Aku semakin merasa takut. Sebisa mungkin aku berontak, meronta-ronta, dan mengapai-gapai udara. Tetap saja percuma, ribuan peri daun itu tak mau melepasku.

Tubuhku terbang semakin tinggi. Dapat kurasakan angin yang semakin dingin dari atas sini. Lampu-lampu di pemukiman terlihat seperti bintang-bintang dilangit, begitu kecil. Awan-awan melintas tanpa permisi di samping kiri, kanan, dan diatas kepalaku. Sebetulnya aku ingin memegang awan-awan itu, aku hamya ingin tahu seperti apa rasanya menyentuh awan. Tapi apa daya, tanganku digerumuti daun-daun angsana sialan ini. Mereka bisa saja menjatuhkan aku dari ketinggian seperti itu bila mereka memang membenciku hingga terlepas semua tulang dari persendianku. Namun, aku merasa bahwa mereka akan membawaku ke sebuah tempat – entah dimana dan untuk apa. Kini aku coba tenang seraya menebak-nebak apa yang akan terjadi.

Untuk kedua kalinya dalam cerita ini aku terperanga. Sejalan kemudian aku berada diatas lautan lumpur panas. Makhluk-makhluk daun merendahkan jarak terbang mereka hingga nyaris membuat kakiku menyentuh permukaannya. Untung kakiku kuangkat secara sepontan. Dapat kulihat beberapa atap rumah yang masih menyembul diatas permukaan lautan lumpur yang sangat luas itu.

Aku berada tepat di tengah hamparan lumpur panas itu. Sekeliling yang kulihat hanyalah lumpur dan lumpur. Asap mengepul dari berbagi penjuru, menandakan kue lumpur raksasa itu masih panas. Mungkinkah peri-peri daun itu ingin menguburku hidup-hidup di tempat ini? Aku kembali berontak. Nampaknya mereka mengerti bahwa aku sudah tak suka berada lama-lama disini, maka sedetik kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Dari atas, kulihat pula pasprototo sungai yang tercemari. Bangkai-bangkai ikan mengambang, sementara ratusan lalat menari hilir mudik merayapi makhluk malang yang keracunan limbah pabrik itu. Tidak hanya itu, sampah-sampah dari kebutuhan manusia turut menyemarakan isi sungai. Tidak hanya berwarna coklat tanah, sungai itu pun berbau busuk yang menusuk hidung. Sialnya aku tak diijinkan menutup hidung. Lebih parahnya lagi, mereka mendekatkan mukaku pada permukaan air sungai itu. Mungkin agar aku bisa lebih puas melihatnya.

Jauh sudah mereka membawaku. Kali ini aku merasa sedikit senang diantara ketakutanku yang teramat sangat. Hatiku sedikit terhibur oleh pemandangan rimbunnya pepohonan yang terlihat seperti karpet hijau yang terhampar. Namun, tak lama aku merasakan kedamaian tersebut. Di tengah hutan yang indah itu, tanah gundul nampak jelas sekali terlihat. Bahkan lebih dari setengah bagian hutan itu tak lagi tertancap pohon-pohon yang dahulu tinggi menjulang. Semakin jauh mereka membawa tubuhku, semakin tahu pula aku maksud mereka membawaku. Mereka hendak menunjukan hasil tingkah polah manusia yang merusak alam dan seharusnya menjaga sebagai pemimpin di muka bumi.

Peri-peri itu menikuk tajam ke arah sebuah lubang yang menganga lebar di permukaan tanah. Letaknya berada tengah hutan. Lubang itu terasa seperti terowongan yang dibuat berkelok-kelok. Mungkin lebih mirip rel jet coaster dalam hal kelokannya. Peri-peri itu terbang membawaku dengan kecepatan kilat. Aku berteriak walaupun tak bersuara karena pita suaraku masih kaku, saat beberapa kali tubuhku nyaris menabrak dinding-dinding terowongan itu. Untunglah mereka adalah penerbang yang ahli.

Perjalanan menelusuri terowongan pun berakhir. Aku sampai di sebuah ruangan yang berada di ujung liang berkelok tersebut. Akar-akar tunggang dari pohon diatas permukaan tanah menjadi ornamen hiasan dinding di segala penjuru ruangan. Bila kau pernah menyaksikan film Jumanji saat dinding rumah pemeran utamanya (Alan) dipenuhi tanaman merambat, seperti itulah gambaran tempat itu. Namun, jarak antara atap dan lantainya amatlah jauh, kira-kira 30 meter. Sedangakan luas ruangannya sekitar 45 meter dan semua ber-backgruond tanah coklat. Bila aku menengadah, aku dapat melihat beberapa fosil hewan dari berbagai jaman sebagai hiasan dinding. Obor-obor kecil ditancapkan dibeberapa sudut. Jamur-jamur raksasa tumbuh rapi seperti barisan anggota pramuka, sementara beberapa makhluk hidup yang ’benar-benar hidup’ duduk diatasnya. Puluhan populasi dari beberapa ekosistem berkumpul dalam ruangan itu. Aku hanya ngeh dengan beberapa spesies yang sempat kulihat. Sepasang jalak yang ramai berkicau seraya kaki kuningnya menunjuk sinis kearahku, beberapa perdu, dan sekelompok jakal (anjing hutan dari Asia dan Afrika) dengan bulu kuningnya yang khas, ada pula keluarga jaguar – turis asing dari amerika selatan yang menyeringai menunjukan besarnya taring mereka. Aku baru menyadari bahwa aku berada disebuah ruang persidangan setelah peri-peri daun itu menurunkanku di atas sebuah kursi menghadap pada seekor burung hantu yang duduk sambil memegang sebuah palu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semua hewan itu bisa berbahasa manusia? Entahlah. Yang jelas, aku ingin segera pulang.

Seekor tikus membuka percakapan sebagai jaksa penuntut.

”Tuan hakim,” kepada burung hantu yang duduk didampingi dua ekor orangutan sebagai jagapati (pengawal).

”Para manusia telah melakukan kerusakan dimuka bumi ini. Hal ini tersebar diseluruh dunia. Mulai dari penggundulan hutan, pencemaran, hingga pembunuhan hewan-hewan langka demi keuntungan semata. Bisa Tuan Hakim saksikan sendiri, bagaimana para manusia mengeruk tanah sedalam-dalamnya untuk mendapatkan gas alam. Ijinkan saya memanggil salah satu saksi, Yang Mulia.”

“Silakan,” jawab burung hantu penuh wibawa.

Tanah serentak bergetar. Tepat didepanku sebuah lubang terbentuk pada permukaan tanah. Lubang itu menyerupai mulut manusia. Dari sanalah keluar sebuah kesaksian. Terdengar suara bergumam, suara itu terdengar sangat berat.

“Para manusia melubangi tubuhku. Beberapa benda logam serentak mengeruk semakin dalam. Memang, aku tak merasakan sakit karena aku memang tak punya sistem syaraf. Tapi, kerakusan mereka membuat lubang pada tubuhku semakin dalam. Aku muak pada sikap mereka, maka dari itulah aku tenggelamkan rumah-rumah manusia dengan lumpur panas. Selain itu Yang Mulia, ada pula beberapa manusia yang dengan serakahnya memanfaatkan air tanah hingga keroposlah lapisanku. Akibat kesalahan mereka itu, permukaan tanah merosot dan habislah air dalam tubuhku.”

”Apa pembelaanmu, Manusia?” tanya sang Hakim seraya menatap padaku.

Sudahkah aku bercerita bahwa aku ini tak mampu berbicara didepan umum? Jelas aku tak dapat membela diri. Aku hanya tertunduk ditemani keringat yang mengucur deras pada wajahku.

”Mengapa kau berkeringat? Panaskah disini? Di bumi ini? Tentu saja begitu. Manusia dengan bangga menggunakan pengatur suhu ruangan dan kendaraan bermotor yang mengakibatkan pemanasan global. Sadarkah engkau, Manusia?” sang Jaksa memojokanku.

“Aku... aku tahu,” jawabku terbata.

Aku terlalu payah untuk berkata-kata. Andai aku membawa selembar kertas dan alat tulis, aku dengan senang hati akan membuat surat pembelaan.

Apa lagi yang terjadi? Aku mendengar suara langkah kaki yang berdegum kencang. Raksasa mungkin. Kulihat kesekeliling forum persidangan yang duduk dibelakangku, tak nampak adanya tanda-tanda sumber suara. Suara itu semakin kencang hingga tanah turut bergetar. Sumber suara itu semakin mendekat. Sebuah batang pohon yang sangat besar terlihat masuk dari lubang pintu ruangan dengan cara merunduk. Diameter perdu itu sekitar dua meter, sedangkan tingginya mencapai 25 meter. Kalau saja pohon itu senewen dan ingin menimpaku, jadilah aku keripik manusia.

”Yang Mulia, aku adalah pohon tertua dihutan ini,” ujarnya sambil sedikit melakukan pantomimik dengan ranting yang juga tangannya.

”Lebih dari setengah hutan di negara kita telah habis ditebangi secara ilegal. Padahal kami, para pohon, selalu berusaha melindungi mereka dari banjir yang mungkin melanda. Sebisa mungkin kami serap air hujan kedalam tanah dengan bantuan akar-akar kami agar tak menggenangi kota. Tapi apa balasan mereka?”

“Apa pembelaanmu?” Hakim kembali bertanya padaku.

Apa tidak ada pertanyaan lain? Aku sangat anti berargumentasi. Mungkin bila ia bertanya ’Apa yang dimaksud fosforilase?’ akan kujawab, walau sedikit gerogi. Fosforilase adalah nama enzim yang terdapat dalam otot dan hati yang mengkatalisis pengubahan glikogen menjadi glukose fosfat. Atau, aku lebih suka semisal soal ujian kimia kemarin ’apa yang dimaksud dengan forgen?’. Forgen adalah racun tanpa warna dengan nama kimia ’karbonil klorida’. Mengapa harus pertanyaan seperti itu?

Keringatku semakin deras mengucur. Sejenak persidangan hening karena aku tak menjawab apapun, sementara sang Tikus menatapku tajam sambil berjalan bolak-balik didepanku dengan posisi tangannya bergandeng dibelakang badan. Beberapa hewan dan tumbuhan dalam forum persidangan mulai berbisik-bisik entah mengenai apa.

Firasatku mengatakan bahwa masalahku ini akan bertambah rumit saat seekor kera berdiri didepan persidangan untuk menyampaikan keluhan. Pasti mengenai hutan gundul yang merupakan tempat tinggal mereka dan dirusak oleh manusia. Banyak sekali dosa manusia pada bumi! Lagi-lagi, setelah itu pasti burung hantu tambun itu akan menanyakan hal yang sama seperti sebelumnya.

”Apa pembelaanmu?”

Aku merasakan ada sesuatu diatas kepalaku. Rupanya seekor katak yang juga akan menambah masalahku. Sudah bisa kutebak, pasti masalah sungai.

”Aku melaihatnya sendiri, Yang Mulia. Mereka membuang benda-benda menjijikan ke dalam sungai.”

Setelah para hewan, tumbuhan, bahkan tanah bersaksi, Hakim mulai mengangkat palu. Kaget bukan main aku, persidangan ini bukan hal main-main. Burung hantu itu menjatuhkan hukuman mati padaku. Aku rasa manusia pantas mendapatkan hukuman mati atas kesalahan itu. Tapi, kenapa harus aku? Bahkan aku tak pernah memegang kapak untuk menebang sebuah pohon.

Seekor ular piton sepanjang 15 meter didatangkan dalam sebuah kandang. Perlahan gembok dalam sangkar itu dilepaskan. Aku pun perlahan berjalan mundur. Semakin lama, langkahku semakin kencang. Tak peduli apapun, aku terus berlari. Bersembunyi dibalik sebuah peti kayu. Aku bisa merasakan tetesan lendir yang jatuh ke atas kepalaku. Kucoba mencari tempat bersembunyi lainnya. Dapat! Aku masuk lubang yang cukup besar. Ujung lain pada lubang itu membawaku ke sebuah ruangan. Air menggenangi seluruh alas ruangan itu hingga mencapai mata kaki. Aku kembali berlari, namun ular raksasa itu jauh lebih cepat. Tak lama kemudian ular itu berhasil membelitku. Sesak napas mulai kurasakan. Mata ular itu kini sangat dekat dengan mataku. Kami saling berhadapan. Belitannya semakin kencang. Sekuat mungkin aku meregangkan tanganku agar aku dapat bernapas. Sebelum menelanku, ia terlebih dahulu menjilat pipiku. Lalu....

Aku terbangun karena rupanya hachi menjilati pipiku saat tertidur. Untunglah hanya mimpi. Tanganku masih memegang sebuah buku. Pasti karena buku ’Kerusakan Alam’ yang kubaca sebelum tidur ini. Sebuah pelajaran lewat mimpi.

Sebelum lupa, segera kutulis sebuah kerangka karangan untuk kujadikan cerita pendek. Sebuah mimpi juga ternyata sumber inspirasi. Tak semudah yang kuduga, kesalahan selalu ada. Kurobek selembar kertas karena kurasa ada beberapa yang salah. Kertas itu kulempar ke tempat sampah, dan ternyata meleset. Segera kubuat kerangka baru. Namun, mataku lekas tertuju pada kertas yang kubuang tadi. Ia bergerak-gerak. Lalu, terdengarlah suara.

”Hey, buanglah aku pada tempatnya!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar