Cerpen Laskar Pemikat

Cerpen berdasarkan kisah nyata dengan sentuhan kegaringan

Friendsterku
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2009

AH.....

AH...
(Wildan Duasisi)

Janggut Malaikat maut tergerai di tanah kami
Gigi gingsul mereka menancap di pundak di urat dan nadi yang kemarin masih berdenyut
Memaksa tanpa pilihan – menelan lumpur-lumpur dari deras air liur Situ Gintung

Kami punya kafan
Tapi tak cukup banyak menutupi mayat-mayat malu tak berbusana
Lahan tak luas menampung jasad mati anak kami
Nyawa seharga keping batu yang pecah musim ini

Aku bertanya entah pada siapa – dimana anak langit yang menjaga sekotak negeri?
Kemana seharusnya air kencing bumi itu mengalira?
Tak seharusnya air bah bangunkan kami malam itu

Harus pada siapa kami meninju dada?
Apakah langit yang cengeng?
Atau bumi yang tolol?
Atau tanggul yang rapuh?
Atau perut buncit mayat ini?

Begitu cepat ijroil bermain tangan
Selepas nyawa, Ah…

Jumat, 10 April 2009

Aku, Hati dan Tuhan

AKU, HATI, DAN TUHAN

(Wildan Duasisi)


peluk tubuhku, Tuhan.

aku merasa dingin kala cinta menjadi getaran di gendang telinga yang kemudian menggesek wajah kalbu dalam tempurung tekadku, menjelma sebagai bulir dalam nadi, menjadi nyanyian degup jantung yang memburu nyawaku seiring waktu mengibaskan pedati pada rotasi, menjadi aroma busuk mengepul di rongga hidung yang membuatku sesak dan mual hingga memuntahkan logika.

Tuhan, biar ku pinjam tanganmu.

aku ingin meremas keras cinta semu yang begitu mudahnya menghilang seperti asap dan kabut dalam jiwaku. tidakkah Kau terpejam saat seorang gadis menghadiahkan cinta, kemudian aku tertawa sambil membelah dua jangtungnya. ia rekatkan kemudian menghadiahkannya kembali sambil tersenyum lugu. aku menyeringai seperti srigala menatap mangsa.

Selamat Malam Wahai Pagi

SELAMAT MALAM WAHAI PAGI

Selamat malam, wahai jiwa-jiwa yang melayang dalam pembaringan kelam

Yang memberi terang hingga redup malam yang pekat

Selamat malam, wahai asap, kabut, dan tirai angin jendela pagi

Selamat malam siapapun yang mendengar, selamat malam menjelang pagi

Inilah stensil hidupku bersama fiksi dongeng masa silam

Inilah harapan dari bayang-bayang yang sempat singgahi hari esok

Selamat pagi, wahai jiwa-jiwa yang berlabuh di batas buana

Yang berganti terang perlahan

Selamat pagi wahai embun, kesejukan dan kemilau kening daun, dan sorot mata malaikat tanpa sayap

Malaikat yang selalu hadir sebagai pendamping hidupku, muncul saat pertama mata terjaga

Selamat pagi menjelang siang, kukabarkan apa yang hendak aku sampaikan

Aku bahagia karena cintaku hadir dari kenangan masa lalu

Untuk merajut masa depan bersama hingga hari bergulir penuh kenangan

Selamat tinggal malam, selamat tinggal pagi, selamat tinggal untuk setiap hari yang sempat kutapaki

Menjemput Nyawa Kedua

Menjemput nyawa kedua

(Wildan Duasisi)


Tuhan, aku ingin dengar suara lembut-Mu ketika Kau ucapkan "kun", maka Kau tiupkan ruh kedalam jiwaku. Lalu dengan secuil kinesik lewat gemericik lonceng malaikat jagapati malam yang tinggalkan jejak bulu sayap, kau kirimkan mimpi tentang panasnya neraka.

Suatu pagi dimana gelap adalah cahaya yang paling terang, dimana tanah menimbun jasad yang lelah menghirup dinginnya partikel senja, dimana malam adalah kala Tuhan menghidupkan dosa yang kubuat diatas lembaran buku-buku tebal penjaga pundak kiri.
kumohon Tuhan! biar aku jilati kembali buana fana-Mu. biar aku penuhi sebahat dalam lubung gelap Ibunda. Tuhan, katakanlah "kun"! tak sulit bukan? dalam keringnya tulangku, menyambut ruh yang pulang membawa sisa-sisa aroma gurih daging bercampur napas desah gurah Iblis. Namun Tuhan tak pernah ingkari, bahwa hidupku hanya sekali.

Andai mataku seluas sudut jagat, andai Tuhan lengah, kan kuintip sebuah kalimat dalam loh mahfuz tentang takdir sebuah nyawa. Kusanjung Kau, Tuhan! kan kuteriakan nama-Mu dalam hembus dan renggut napas sengalku. kan kuperlihatkan sebuah sujud paling runduk melebihi datarnya tanah gambut ini. semua kan aku lakukan asalkan kau tutupi gerbang lapar yang setia menjaga Malik.


Tuhan, Kau tak pernah lengah. Maka ampuni dosaku, itulah satu-satunya cara agar hambamu ini tak menangis di padang mahsyar.

Kumpulan Puisi

LANGKAH-LANGKAH YANG TERLIPAT
(Wildan Duasisi)

I
Di gerogol dongkol masih kucoba penuhi sebahat menanti di depan mentari terbenam
menuju kaki-kaki kusut berkerut punya Neptunus

Dinda Levina…
dua-dua di bulan ke dua, kuhatur dua buket melati, mawar, kamelia juga dahlia serta
sedikit menyipit mata karena tak pecaya
Angin muson kabarkan duka walau sang ratu pelabuhan anak manja bapak Jakarta tak
mau bicara
Perjalananmu berbelok ke dasar laut, bukan?
Jawablah bukan…!

Kail pancing bapak nelayan tersangkut jasad hangus sisa makan barakuda
Juga mayat bayi yang terjerat pemayang terbentur dayung-dayung menggoreskan hurup juaji maut pada kerut dahi
Pada dua-dua bulan ke dua

Kisik- kisik samar ku dengar suaramu, dinda Levina
Mengayun di antara gunung jeritan sanak dan rintihan sobat
Sendu dan begitu terdengar naas

II
Buat Adam sahabatku…
Lama tak jumpa
tak ingatkah kau pada Sam Ratulangi, sahabatmu ini?
Aku tunggu sejak jam bundar menyodorkan kedua lengannya pada angka tiga kosong
tujuh
Pada waktu muadzin lantang mengumandangkan waktu ashar
Pada waktu anak-anak memegang papan karton bertuliskan nama Ayahnya
Pada waktu si nenek mesem-mesem siapkan balsem buat cucunya yang kadang
mabuk udara
Pada waktu wanita hamil mengelus kandungan sambil berkata
Sebentar lagi ayahmu datang membawa banyak uang
Lahirlah dalam kecukupan, Anakku

Tandas ombak terbelah di batu karang
Kutunggu kau seperti menunggu hujan dimusim kemarau
Kehadiranmu menjadi sesuatu yang tak pasti
Aku pikir kau sedang asik bermain-main bersama duyung di Masalembu
Ternyata kau tersesat di akhirat

III
Kisruh…
Kisruh…
Langkah-langkah terlipat
Ujung tombak menancap pada sasaran panah
Entah apa istilahnya

Prima kosong tak benar-benar kosong
Ia mengunyah dalam kabin 200 manusia hidup
Bukan kambing atau sembako
Mereka nekat mengangkut orang bagaikan ternak

Parepare lambaikan tangan kepergian kapal malang yang menelan pegal
Ombak tinggi genit menyenggol-nyenggol ingin kenalan
Maka tumpahlah jiwa-jiwa berjeritan di Majene
Menunggu sampan nelayan menyuguhkan umur panjang

Relakan mereka terkuburkan dilautan yang tenang








Yogyakarta 19 Feb
01:46